Ketika aku membuka file-file tulisanku, kutemukan sebuah tulisan yang mengantarkanku menjadi Juara 2 lomba menulis Tingkat Kabupaten beberapa tahun silam. Sebenarnya tulisan ini, telah aku posting di FB-ku, tapi rasanya aku ingin kembali mem-posting di blog ini. Bukan maksud menonjolkan suatu tokoh atau menonjolkan diri sendiri, tapi mari kita belajar darinya, kita contoh dan tiru segala kebaikannya. Tak berpanjang lama, mari kita simak tulisan berikut ini, selamat menbaca!
Selembut Peuyeum, Setegar Caringin
Tahu, kan, Anda dengan peuyeum?
Makanan khas sunda dari hasil fermentasi singkong. Rasanya manis dan lembut.
Tahukan anda dengan caringin? Caringin adalah pohon beringin dalam
basa Sunda. Tanaman berakar tunggang, yang kokoh dan tumbuh tinggi menjulang,
dengan daun-daun yang rimbun nyaman untuk berteduh. Peuyeum
dan caringin adalah dua nama yang
tidak lepas sebagai ciri khas satu kecamatan di kabupaten Bandung. Ya, peuyeum Cimenyan dan Caringin Tilu.
Peuyeum Cimenyan yang manis nan lembut produksi warga Cimenyan. Caringin Tilu adalah objek wisata di
wilayah Cimenyan nan eksotis. Dari
lokasi ini kita dapat memandang kota Bandung dari ketinggian. Mengapa dinamai Caringin Tilu? Karena di tempat ini tumbuh tiga pohon beringin.
Tiga dalam basa sunda adalah tilu, sehingga
masyarakat setempat menamai tempat tersebut dengan Caringin Tilu.
Di dalam tulisan ini, penulis
tidak akan membahas tentang peuyeum
dan caringin, tetapi penulis akan melukiskan
seseorang yang lembut, selembut peuyeum, dan berjiwa tegar, setegar pohon
beringin. Siapakah ia? Dia adalah
seorang wanita paruh baya berusia 63 tahun, warga desa Cimenyan. Penulis
mengenalnya sekitar tiga tahun lalu. Pertemanan selama tiga tahun membuka mata
penulis tentang sosok wanita hebat. Apa kehebatan
sosok wanita ini? Inilah paparannya.
Sosok wanita hebat ini hidup
dengan kesederhanaan. Setelah menempuh pendidikan sekolah dasar, beliau tidak
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Di usia 17 tahun, beliau menikah dengan lelaki yang begitu
menyayangi dan mencintainya. Dari rumah yang penuh kebahagian ini terlahir 6
anak, dengan satu keguguran, sehingga beliau diamanahi untuk membesarkan 5
anak.
Kesibukkan mengasuh 5 anak tak
menghalangi kontribusi beliau kepada masyarakat. Nyatanya, beliau tidak hanya
memberikan pendidikan agama bagi anak-anak kandungnya, melainkan beliau juga
mengajari anak-anak tetangga di kampungnya, di masjid kecil dekat rumahnya. Beliau mengajari anak-anak itu mengaji hingga
mereka berumah tangga.
Melihat keantusiasan anak-anak
belajar mengaji menambah semangat beliau untuk terus membina anak-anak di
kampungnya. Ternyata, yang belajar mengaji tidak hanya anak usia sekolah dasar,
tapi ada juga anak-anak usia dini. Inilah yang menggelitik beliau untuk mendirikan
sekolah bagi anak usia dini. Akhirnya,
dengan dukungan penuh dari sang suami, lahirlah PAUD Al Hayyat. Dengan adanya PAUD di tempatnya, maka anak
usia dini di kampungnya tidak perlu jauh-jauh bersekolah, terlebih lagi biaya
sekolah tersebut dapat dijangkau oleh masyarakat. Selain itu, adanya PAUD membuat anak-anak usia
dini di kampungnya menjadi semakin siap untuk memasuki sekolah dasar.
Untuk memajukan PAUD, tak cukup
bermodal semangat belaka, melainkan dibutuhkan pula ilmu. Inilah yang bisa dicontoh
dari beliau. Dalam mencari ilmu, beliau
aktif mengikuti kegiatan seminar atau pelatihan. Beliau bersemangat jika
diminta Himpaudi untuk mengikuti pelatihan atau Bimtek. Bahkan, jika ada
penawaran dari ketua Himpaudi untuk mengikuti pelatihan, Beliaulah yang pertama
mengajukan diri untuk ikut serta. Padahal, anggota lainnya termasuk penulis,
banyak menimbang-nimbang jika ditawari mengikuti pelatihan.
Semangat belajar beliau tiada
tara. Kilas-balik perjalanan menuntut
ilmunya membuktikan hal ini. Beliau yang
awalnya hanya berpendidikan formal hingga sekolah dasar, kemudian beliau iringi
dengan mengikuti persamaan paket B (setingkat SMP) dan persamaan paket C (setingkat
SMA). Tak cukup hingga di situ, di usia
senjanya yang telah di atas 60 tahun, beliau masih bersemangat menimba ilmu
dengan mengikuti perkuliahan S-1, dengan mengambil program studi yang berkaitan
dengan anak usia dini di sebuah universitas
swasta di kota Bandung.
Perjuangan beliau di atas mengingatkan
penulis terhadap tulisan bu elly Risman tentang wanita paruh baya. Salah satu
poinnya adalah meraih mimpi yang tertunda. Elly Risman menyatakan bahwa harapan hidup
wanita Indonesia saat ini ada pada kisaran 75 tahun. Terentang waktu yang cukup bagi seorang
wanita untuk mewujudkan mimpi dan keinginannya di masa belia, remaja, dan
dewasa, yang belum teraih, tentu dengan kesungguhan dan kegigihan diri. Pragmen perjalanan hidup beliau telah
menunjukkan kegigihannya.
Kegigihannya pun terlihat dari
cara pandangnya terhadap masalah. Pernah
suatu ketika, saat penulis mengikuti suatu kegiatan di sebuah kampus, beliau
bercerita bahwa kampus ini adalah kampusnya. Setelah penulis berbasa-basi
mengenai perkuliahannya, penulis berseloroh bahwa salah satu hal yang tersulit
dari dunia perkuliahan adalah menyusun skripsi. Penulis mengucapkan kata-kata
tersebut karena kembali teringat perjuangan penulis saat menyelesaikan skripsi.
Diusia yang masih muda dan belum menikah saja sulit meyusun skripsi, apalagi
bagi beliau yang sudah berusia senja dan berkeluarga. Namun, bagaimana jawaban beliau? Inilah
jawabannya yang membuat penulis tercengang, “Kita tidak boleh patah semangat
dan jangan mengatakan susah, tetapi terus berusaha.” Kata-kata itu terbukti. Dengan perjuangan dan semangat yang kokoh bagai pohon beringin yang berdaun rimbun, di
usia 63 tahun, beliau menamatkan S-1 dengan nilai yang memuaskan.
Tidak hanya giat dalam mencari
ilmu, beliau juga senang berorganisasi. Kalau melihat usia, pantasnya beliau
berada di rumah bercengkrama dengan para cucunya, tetapi tidak dengan beliau
yang aktif di organisasi desa, pengajian ibu-ibu, juga tentunya kegiatan
Himpaudi. Yang menarik, ketika ada
kepanitian Himpaudi, beliau senantiasa berperan serta. Di saat para anggota muda berusaha menghindar dari
kepanitiaan, beliau malah menawarkan diri terhadap apa yang bisa beliau bantu.
Ketika ditanya mengapa beliau bersedia menjadi panitia dalam suatu kegiatan, beliau
menjawab bahwa apa yang dilakukan adalah ibadah.
Demikianlah wanita tersebut. Dimata masyarakat tempat beliau tinggal, beliau adalah tokoh yang sangat dihormati, tokoh
wanita yang sangat berjasa, selalu bersemangat, pantang menyerah, sosok guru
yang tegas, disiplin, dan ceria. Beliau
menjadi sumber inspirasi bagi para guru pada PAUD yang dibinanya.
Keberkahan hidup beliau
menjadikan kehidupan keluarganya harmonis. Sang suami senantiasa mendukung
aktifitasnya, saling membantu terutama dalam hal ibadah. Sementara anak-anaknya
yang telah berkeluarga pula, yang ia didik dengan dengan kelembutan dan kasih
sayang yang berpilar agama, menjadi anak-anak yang salih, yang menyayangi
ibunya yang termanifestasi dengan menanggung secara ekonomi terhadap kehidupan beliau.
Itulah secuail tulisan tentang sosok
beliau yang lembut dan manis, laksana peuyeum yang senantiasa disuguhkan ketika
penulis bertamu padanya, juga tentang ketegaran dan semangat hidupnya yang setegar beringin yang tumbuh kokoh di utara rumahnya. Beliau adalah ibu Hj. Yati Hayati, pendiri
dan kepala sekolah KB Al Hayat, warga kampung Babakan, desa Cimenyan, kecamatan
Cimenyan, kabupaten Bandung.

