Kamis, 22 Oktober 2020

TOKOH

Ketika aku membuka file-file tulisanku, kutemukan sebuah tulisan yang mengantarkanku menjadi Juara 2 lomba menulis Tingkat Kabupaten beberapa tahun silam. Sebenarnya tulisan ini, telah aku posting di FB-ku, tapi rasanya aku ingin kembali mem-posting di blog ini. Bukan maksud menonjolkan suatu tokoh atau menonjolkan diri sendiri, tapi mari kita belajar darinya, kita contoh dan tiru segala kebaikannya. Tak berpanjang lama, mari kita simak tulisan berikut ini,  selamat menbaca! 

Selembut Peuyeum, Setegar Caringin

Tahu, kan, Anda dengan peuyeum? Makanan khas sunda dari hasil fermentasi singkong. Rasanya manis dan lembut. Tahukan anda dengan caringin? Caringin adalah pohon beringin dalam basa Sunda. Tanaman berakar tunggang, yang kokoh dan tumbuh tinggi menjulang, dengan daun-daun yang rimbun nyaman untuk berteduh.  Peuyeum dan caringin adalah dua nama yang tidak lepas sebagai ciri khas satu kecamatan di kabupaten Bandung. Ya, peuyeum Cimenyan dan Caringin Tilu.

Peuyeum Cimenyan yang manis nan lembut produksi warga Cimenyan. Caringin Tilu adalah objek wisata di wilayah Cimenyan nan eksotis.  Dari lokasi ini kita dapat memandang kota Bandung dari ketinggian.  Mengapa dinamai Caringin Tilu? Karena di tempat ini tumbuh tiga pohon beringin. Tiga dalam basa sunda adalah tilu, sehingga masyarakat setempat menamai tempat tersebut dengan Caringin Tilu.

Di dalam tulisan ini, penulis tidak akan membahas tentang peuyeum dan caringin, tetapi penulis akan melukiskan seseorang yang lembut, selembut peuyeum, dan berjiwa tegar, setegar pohon beringin. Siapakah ia?  Dia adalah seorang wanita paruh baya berusia 63  tahun, warga desa Cimenyan. Penulis mengenalnya sekitar tiga tahun lalu. Pertemanan selama tiga tahun membuka mata penulis tentang sosok wanita hebat.  Apa kehebatan sosok wanita ini? Inilah paparannya. 

Sosok wanita hebat ini hidup dengan kesederhanaan. Setelah menempuh pendidikan sekolah dasar, beliau tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Di usia 17 tahun,  beliau menikah dengan lelaki yang begitu menyayangi dan mencintainya. Dari rumah yang penuh kebahagian ini terlahir 6 anak, dengan satu keguguran, sehingga beliau diamanahi untuk membesarkan 5 anak.

Kesibukkan mengasuh 5 anak tak menghalangi kontribusi beliau kepada masyarakat. Nyatanya, beliau tidak hanya memberikan pendidikan agama bagi anak-anak kandungnya, melainkan beliau juga mengajari anak-anak tetangga di kampungnya, di masjid kecil dekat rumahnya.  Beliau mengajari anak-anak itu mengaji hingga mereka berumah tangga.

Melihat keantusiasan anak-anak belajar mengaji menambah semangat beliau untuk terus membina anak-anak di kampungnya. Ternyata, yang belajar mengaji tidak hanya anak usia sekolah dasar, tapi ada juga anak-anak usia dini. Inilah yang menggelitik beliau untuk mendirikan sekolah bagi anak usia dini.  Akhirnya, dengan dukungan penuh dari sang suami, lahirlah PAUD Al Hayyat.  Dengan adanya PAUD di tempatnya, maka anak usia dini di kampungnya tidak perlu jauh-jauh bersekolah, terlebih lagi biaya sekolah tersebut dapat dijangkau oleh masyarakat.  Selain itu, adanya PAUD membuat anak-anak usia dini di kampungnya menjadi semakin siap untuk memasuki sekolah dasar.  

Untuk memajukan PAUD, tak cukup bermodal semangat belaka, melainkan dibutuhkan pula ilmu. Inilah yang bisa dicontoh dari beliau.  Dalam mencari ilmu, beliau aktif mengikuti kegiatan seminar atau pelatihan. Beliau bersemangat jika diminta Himpaudi untuk mengikuti pelatihan atau Bimtek. Bahkan, jika ada penawaran dari ketua Himpaudi untuk mengikuti pelatihan, Beliaulah yang pertama mengajukan diri untuk ikut serta. Padahal, anggota lainnya termasuk penulis, banyak menimbang-nimbang jika ditawari mengikuti pelatihan.

Semangat belajar beliau tiada tara.  Kilas-balik perjalanan menuntut ilmunya membuktikan hal ini.  Beliau yang awalnya hanya berpendidikan formal hingga sekolah dasar, kemudian beliau iringi dengan mengikuti persamaan paket B (setingkat SMP) dan persamaan paket C (setingkat SMA).  Tak cukup hingga di situ, di usia senjanya yang telah di atas 60 tahun, beliau masih bersemangat menimba ilmu dengan mengikuti perkuliahan S-1, dengan mengambil program studi yang berkaitan dengan anak usia dini di sebuah universitas  swasta di kota Bandung.

Perjuangan beliau di atas mengingatkan penulis terhadap tulisan bu elly Risman tentang wanita paruh baya. Salah satu poinnya adalah meraih mimpi yang tertunda.  Elly Risman menyatakan bahwa harapan hidup wanita Indonesia saat ini ada pada kisaran 75 tahun.  Terentang waktu yang cukup bagi seorang wanita untuk mewujudkan mimpi dan keinginannya di masa belia, remaja, dan dewasa, yang belum teraih, tentu dengan kesungguhan dan kegigihan diri.  Pragmen perjalanan hidup beliau telah menunjukkan kegigihannya.    

Kegigihannya pun terlihat dari cara pandangnya terhadap masalah.  Pernah suatu ketika, saat penulis mengikuti suatu kegiatan di sebuah kampus, beliau bercerita bahwa kampus ini adalah kampusnya. Setelah penulis berbasa-basi mengenai perkuliahannya, penulis berseloroh bahwa salah satu hal yang tersulit dari dunia perkuliahan adalah menyusun skripsi. Penulis mengucapkan kata-kata tersebut karena kembali teringat perjuangan penulis saat menyelesaikan skripsi. Diusia yang masih muda dan belum menikah saja sulit meyusun skripsi, apalagi bagi beliau yang sudah berusia senja dan berkeluarga.  Namun, bagaimana jawaban beliau? Inilah jawabannya yang membuat penulis tercengang, “Kita tidak boleh patah semangat dan jangan mengatakan susah, tetapi terus berusaha.”  Kata-kata itu terbukti.  Dengan perjuangan dan semangat yang kokoh  bagai pohon beringin yang berdaun rimbun, di usia 63 tahun, beliau menamatkan S-1 dengan nilai yang memuaskan.   

Tidak hanya giat dalam mencari ilmu, beliau juga senang berorganisasi. Kalau melihat usia, pantasnya beliau berada di rumah bercengkrama dengan para cucunya, tetapi tidak dengan beliau yang aktif di organisasi desa, pengajian ibu-ibu, juga tentunya kegiatan Himpaudi.  Yang menarik, ketika ada kepanitian Himpaudi, beliau senantiasa berperan serta.  Di saat para anggota muda berusaha menghindar dari kepanitiaan, beliau malah menawarkan diri terhadap apa yang bisa beliau bantu. Ketika ditanya mengapa beliau bersedia menjadi panitia dalam suatu kegiatan, beliau menjawab bahwa apa yang dilakukan adalah ibadah.

Demikianlah wanita tersebut.  Dimata masyarakat tempat beliau tinggal,  beliau adalah tokoh yang sangat dihormati, tokoh wanita yang sangat berjasa, selalu bersemangat, pantang menyerah, sosok guru yang tegas, disiplin, dan ceria.  Beliau menjadi sumber inspirasi bagi para guru pada PAUD yang dibinanya.

Keberkahan hidup beliau menjadikan kehidupan keluarganya harmonis. Sang suami senantiasa mendukung aktifitasnya, saling membantu terutama dalam hal ibadah. Sementara anak-anaknya yang telah berkeluarga pula, yang ia didik dengan dengan kelembutan dan kasih sayang yang berpilar agama, menjadi anak-anak yang salih, yang menyayangi ibunya yang termanifestasi dengan menanggung secara ekonomi terhadap kehidupan beliau.

Itulah secuail tulisan tentang sosok beliau yang lembut dan manis, laksana peuyeum yang senantiasa disuguhkan ketika penulis bertamu padanya, juga tentang ketegaran dan semangat hidupnya yang setegar  beringin yang tumbuh kokoh di utara rumahnya.  Beliau adalah ibu Hj. Yati Hayati, pendiri dan kepala sekolah KB Al Hayat, warga kampung Babakan, desa Cimenyan, kecamatan Cimenyan, kabupaten Bandung.


Kamis, 15 Oktober 2020

SCUIL HIKMAH



 SEMPURNAKAN TAKARAN, 

SEMPURNAKAN DALAM BERBUAT


Pada pengajian keluarga minggu lalu, anak bungsuku membahas surat as Syu’ara  ayat 181 yang artinya “ Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan”

Menurutnya, Pada ayat ini tidak hanya ditujuan untuk menyempurnakan takaran bagi para pedagang dengan tidak curang dalam menakar. Tetapi bisa ditinjau lebih jauh lagi. Dengan bahasa remajanya, anakku mengatakan bahwa kalau belajar harus sungguh-sungguh tidak boleh malas-malas itu bisa dikatakan menyempurnakan takaran. Demikian juga kalau menolong jangan tanggung-tanggung, jangan setengah setengah tetapi menolong sesempurna mungkin semampu kita bisa.

Ketika anakku berkata kalau menolong atau membantu jangan setengah-setengah, deg! aku teringat dengan perkataan seorang teman ketika kami bersikukuh tentang suatu hal.

Waktu itu adalah pemberkasan permohonan pencairan bantuan untuk lembaga PAUD tahap 1, tentu bagi kami para pengelola PAUD sangat sibuk dalam membuat proposal tersebut. 

Di kecamatan kami, proses pemberkasan sampai penyampaian berkas-berkas ke kabupaten di kelola oleh ormit.  Jadi,  kami menyerahkan berkas, kemudian ormit yang memeriksa jika ada kesalahan langsung diperbaiki oleh lembaga tersebut dan ormitlah yang menyampaikan berkas-berkas kami ke kabupatan. 

Ada kalanya, berkas-berkas walaupun sudah diperiksa,  ada saja kesalahan pada satu atau lebih  lembaga. Maka yang bolak-balik mengantarkan berkas ya, ormit itu sendiri. Itulah perjuangan ormit kami. Sungguh perjuangan yang luar biasa

Waktu itu, proses permohonan pencairan bantuan tersebut terjadi di akhir-akhir bulan Ramadhan tepatnya di 10 hari  terakhir. Yang mana, masa-masa kita menumpuk amal ibadah, ini malah sibuk dengan pengurusan pencairan. Terus terang para pengurus ormit berjibaku dengan waktu, memeriksa mengedit, menghubungi lembaga untuk memperbaikinya serta  mengantarkan berkas ke kabupaten.

Ternyata, walau sudah diperiksa sedetail mungkin, ada saja beberapa lembaga yang salah dalam proposalnya, sehingga harus diperbaiki dan siapa  yang menyerahkan perbaikannya ke kabupaten? Tentu ormitlah. Kalau dekat memang tidak masalah, tetapi... wilayah kecamatan kami sangat jauh ke kabupaten, malah lebih dekat ke kota.

Ketika itu, mayoritas pengurus ormit,  menyarankan untuk mengantar perbaikan tersebut diantar oleh masing-masing lembaga, mengapa? Karena pengurus ingin fokus ke ibadah di sepertiga akhir Ramadhan. Ketika rapat, ternyata ada satu pengurus yang menolaknya, dia berkata “ kalau kita membantu jangan setengah-setengah, bantulah semampu kita. Biarlah saya yang mengantarnya. Doakan saya sehat”.  Yang saya ketahui, kondisinya kurang fit, tapi dia memaksakan diri demi membantu yang lain. Mendengar hal itu, hatiku tersentil, sungguh mulia hatinya. Mungkin orang tidak mengira, dibalik kecerewetannya, bicara yang ceplas ceplos, tetapi ada mutiara-mutiara hikmah yang mengalir. Makanya, kita jangan don’t judge book by it cover.  

Terima kasih teman, kau menyadarkanku berbuatlah yang sempurna semampu kita..


Kamis, 19 Juli 2018

Sampurasun

Salam.

Perkenalkan. kami adalah blog yang mengusung pendidikan dan kreatifitas.  Ada 3 kegiatan di blog kami, yaitu Baca, Belajar, dan Berkreasi.

Baca

Motekar Baca merupakan kegiatan kepustakaan. Mengenalkan buku, membaca, dan berkreasi dari buku, juga menulis berbagai hal yang menambah pengetahuan.

Belajar

Motekar Belajar yaitu kegiatan Be Motekar yang berkaitan dengan belajar, menggali ilmu pengetahuan.

Berkreasi

Motekar Berkreasi adalah kegiatan kreatifitas dengan bahan yang ada, terlebih bahan limbah. 



Yuk! Baca, Belajar, dan Berkreasi di Be Motekar!!!

TOKOH

Ketika aku membuka file-file tulisanku, kutemukan sebuah tulisan yang mengantarkanku menjadi Juara 2 lomba menulis Tingkat Kabupaten beberap...